
Peredaran vaksin palsu beberapa waktu yang lalu sangat menggemparkan. Hal ini sangat meresahkan para orang tua yang akan melakukan vaksinasi untuk anak-anaknya.
Pemberian vaksin pada anak melalui proses imunisasi jadi tidak memberikan manfaat yang semestinya, karena vaksin yang diberikan adalah vaksin palsu. Anak jadi kehilangan kesempatan memperoleh manfaat perlindungan vaksin yang seharusnya didapat dari menjalani prosedur imunisasi tersebut.
Efek vaksin palsu pada tubuh
Tujuan pemberian vaksin adalah untuk meningkatkan sistem imun alami tubuh. Itu sebabnya, vaksin yang asli mengandung antigen yang dilemahkan. Saat masuk ke dalam tubuh, antigen tersebut akan merangsang terbentuknya antibodi yang spesifik untuk melawan antigen tersebut.
Tentu saja vaksin palsu tidak mengandung antigen. Sehingga poin utama dari proses vaksinasi sudah jelas tidak akan tercapai. Antibodi tidak akan terbentuk di dalam tubuh.
Dari investigasi yang dilakukan oleh BPOM, berikut ini zat-zat yang terkandung di dalam vaksin palsu:
– Cairan infus
Umumnya cairan infus berisi gula dan elektrolit.
– Pelarut vaksin
Beberapa vaksin palsu juga berisi cairan pelarut atau aqua pro injection. Cairan ini pada dasarnya aman bagi tubuh, kecuali bila tidak higienis.
– Antibiotik gentamisin
Pada beberapa produk vaksin, BPOM menemukan antibiotik gentamisin. Ini adalah jenis antibiotik yang biasa ditemukan dalam produk obat tetes mata, obat tetes telinga, maupun produk topikal lainnya.
Gentamisin yang masuk ke dalam tubuh melalui vaksin palsu, jumlahnya memang sangat kecil, yaitu sekitar 20 mg. Di mana sebagian besar juga akan dibuang oleh ginjal. Maka dari itu, menurut instansi kesehatan terkait dampak buruk vaksin palsu ini sangat minimal.
Bila diberikan dalam dosis sangat tinggi dalam jangka waktu lama, gentamisin memang dapat menimbulkan gangguan pada ginjal serta gangguan pendengaran. Mengingat dosis gentamisin dalam vaksin palsu tersebut sangat kecil, efek jangka panjang yang dapat timbul pun tidak signifikan.
Walaupun demikian, vaksin palsu diberikan secara injeksi, sehingga tetap ada risiko alergi atau infeksi apabila cairan yang dimasukkan tidak diproses secara higienis.
Waspada vaksin palsu, lakukan langkah ini
Untuk memastikan vaksin yang diterima oleh anak Anda itu asli, hal paling mudah adalah dengan melakukan imunisasi di pusat pelayanan milik pemerintah, seperti Posyandu, Puskesmas, atau rumah sakit pemerintah. Sebab Kementerian Kesehatan telah menjamin bahwa vaksin yang didistribusikan melalui instansi pemerintah merupakan vaksin asli.
Adapun langkah lain yang dapat Anda lakukan untuk memastikan keaslian vaksin adalah sebagai berikut:
1. Memeriksa bersama dokter
Sebelum menerima vaksin, mintalah dokter untuk memeriksa kembali tanggal kedaluwarsa vaksin, wadah dan keutuhan segel vaksin, keaslian label, penanda suhu, serta bentuk fisik vaksin.
Vaksin palsu atau tidak dapat diketahui dari bentuk fisiknya, misal ada atau tidaknya endapan, warna, serta kejernihannya. Izin edar dari vaksin juga dapat diperiksa di situs resmi milik BPOM.
2. Amati reaksi tubuh
Amatilah reaksi tubuh anak Anda setelah menjalani vaksinasi. Segera minta pertolongan medis apabila muncul reaksi-reaksi yang mengkhawatirkan.
3. Lapor kepada BPOM
Jika Anda memang menemukan vaksin palsu, laporkan pada instansi kesehatan terkait. Anda dapat melapor kepada BPOM melalui hotline 1500533 atau Kementerian Kesehatan di nomor 1500567.
Dan bila anak Anda terlanjur menerima vaksin palsu, buatlah laporan kepada satuan tugas penanganan vaksin palsu. Putra atau putri Anda akan diberikan vaksin ulang secara gratis di pelayanan kesehatan rujukan Dinas Kesehatan Provinsi setempat, apabila laporan Anda sudah terdaftar dan terverifikasi.

