
Keguguran adalah satu hal yang sangat tidak diinginkan oleh wanita yang sedang hamil. Namun, ternyata 15-20 persen kehamilan berakhir dengan keguguran.
Jangan salah, banyak wanita yang tidak secara pasti mengetahui apa penyebab terjadinya kehamilan. Hal ini tentu saja karena begitu banyak mitos yang beredar di masyarakat dan informasi turun temurun lainnya.
Anda tentu perlu memahami berbagai mitos dan kesalahpahaman ini agar tidak salah kaprah. Sebab, salah informasi tentu bisa memengaruhi kesehatan diri dan kandungan Anda.
Bahkan banyak wanita yang merasa bertanggung jawab dan merasa bersalah setelah keguguran. Padahal, ada banyak faktor dan penyebab seseorang mengalami keguguran. Tapi karena berbagai informasi yang tidak jelas, mereka juga tidak tahu bagaimana mencegahnya.
Berbagai Mitos Keguguran yang Perlu Diketahui
Ada beberapa kondisi keguguran yang memang tidak bisa dijelaskan apa penyebabnya. Tapi kondisi lain seperti infeksi, kelainan kromosom, hingga masalah kesehatan dapat menyebabkan keguguran.
Berikut beberapa mitos seputar keguguran yang harus Anda tahu agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.
- Jika mengalami pendarahan atau bercak selama kehamilan jadi pertanda keguguran
Padahal, 20-40 persen ibu hamil di trimester pertama memang umum mengalami pendarahan. Para ahli menyebut pendarahan besar dan terus menerus bisa saja terjadi selama masa kehamilan sehat. Jadi pendarahan selama hamil adalah tanda keguguran hanyalah mitos saja.
- Anda akan mengalami keguguran jika sebelumnya sudah pernah terjadi
Ini juga mitos yang sering terdengar di tengah masyarakat. Bahkan menurut ahli, setelah mengalami keguguran pertama, maka risiko keguguran kedua kalinya bahkan tidak lebih besar.
Namun, jika sudah mengalami keguguran 2 kali, maka risiko ketiga kalinya sedikit lebih besar.
Jika Anda sudah mengalami keguguran lebih dari 1 kali, maka perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis terlebih dahulu untuk mendapatkan bagaimana perawatan kehamilan yang baik.
- Keguguran tidak bisa dicegah
Penyebab keguguran memang sebagian besarnya tidak bisa dikendalikan. Namun, tentu ada beberapa penyebab lain yang bisa dicegah. Misalnya merokok yang bisa menjadi penyebab keguguran yang dapat dicegah tentunya. Kemungkinan keguguran bisa terjadi baik itu Anda sebagai perokok aktif maupun perokok pasif.
- Perlu menunggu 3 bulan untuk kembali merencanakan kehamilan setelah keguguran
Ini juga termasuk mitos yang sering terdengar. Padahal menurut penelitian, wanita bisa menjalani kehamilan sehat kapanpun, meski baru 1 bulan setelah mengalami keguguran.
Hanya saja, dokter menyarankan agar menunggu hingga nilai tes darah atau serum beta-hCG menjadi nol sebelum kembali hamil.
Serum beta-hCG ini pun sebenarnya bisa turun ke angka nol dalam beberapa minggu saja setelah keguguran atau satu bulan.
Namun, disarankan menunggu lebih lama jika pasien sudah menjalani pelebaran dan kuretase.
- Keguguran jarang terjadi
Banyak orang yang percaya bahwa keguguran jarang terjadi. Padahal dari data American Pregnancy Association, pada 10-25 persen dari kehamilan bisa mengalami keguguran di Amerika Serikat, lho.
- Melakukan olahraga dan mengangkat beban berat bisa menyebabkan keguguran
Jika olahraga dan beban berat yang diangkat masih dalam batas wajar, tentu sangat tidak mungkin bisa menyebabkan terjadinya keguguran.
Jika hanya mengangkat tas belanjaan atau anak balita ini tidak akan menyebabkan keguguran.
Bahkan menurut ahli, olahraga selama kehamilan dengan persetujuan dokter, bisa menurunkan risiko ibu hamil mengalami keguguran.
Apalagi olahraga bisa mengurangi stres, menurunkan risiko terjadinya diabetes gestasional, serta mengurangi rasa nyeri dan sakit.
Asal jangan memaksa diri untuk berolahraga atau mengangkat beban berat, dan berhenti ketika tidak sanggup.
Itulah beberapa mitos terkait keguguran yang sering terdengar. Anda perlu menanyakan berbagai informasi yang belum jelas kebenarannya pada dokter kandungan Anda.






