
Melakukan pemeriksaan mata pada anak secara teratur harus dimulai sejak usia 3 hingga 5 tahun karena sangat penting. Keuntungan dari pemeriksaan mata secara teratur ke dokter mata mampu untuk mendeteksi masalah mata pada anak, biasanya pemeriksaan dilakukan saat orang tua mengetahui si anak mengalami gejala awal seperti kesulitan melihat dari jarak tertentu.
Pemeriksaan mata dilakukan guna memastikan kondisi mata pada anak sehat dan tidak memiliki masalah penglihatan yang bisa mengganggu kinerja. Seperti saat sekolah, sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan anak lebih jauh dari itu. Di Amerika Serikat, menurut National Insitutes of Health menemukan jika sekitar 35 persen anak prasekolah mengalami masalah rabun dekat.
Jenis Sakit Mata Berbahaya
Sebagian sakit mata memang tidak bersifat menular sehingga pada penderita tetap bisa melakukan aktivitas selama penglihatan mereka masih berfungsi. Namun, terdapat beberapa jenis sakit mata yang membuat penderita disarankan oleh dokter mata untuk tidak melakukan aktivitas di kantor, sekolah maupun tempat umum, berikut diantaranya.
- Herpes Zoster Oftalmikus
Perlu diketahui bahwa virus varicella-zoster yang merupakan penyebab herpes zoster atau cacar ular bisa menyebabkan sakit mata yang disebut herpes zoster oftalmikus. Kondisi ini terjadi pada orang yang pernah terkena cacar air saat masih anak-anak, jika seseorang mengalami beberapa gejala berikut ini disarankan untuk segera berobat.
- Mata merah
- Sakit parah pada mata atau sekitar salah satu mata disertai dengan pembengkakan.
- Ruam kemerahan dan rasa sakit pada kelopak mata hingga ujung hidung.
- Sangat sensitif dengan cahaya.
- Keratitis Herpes Simpleks
Disebabkan karena virus herpes simpleks tipe 1 yang dampaknya mampu menimbulkan infeksi pada kornea mata. Kornea menjadi berkabut dan membengkak, virus ini sama dengan virus yang menyebabkan luka herpes pada mulut dan bibir. Berikut gejala yang perlu diwaspadai ketika seseorang mengalami penyakit ini.
- Keadaan mata dalam kondisi merah.
- Rasa sakit yang muncul bisa pada semua mata atau sekitar salah satu mata.
- Air mata yang secara terus menerus keluar.
- Mata terasa kotor dan terasa perih saat melihat cahaya terang.
Setelah terinfeksi, virus herpes akan berdiam pada serat saraf tanpa adanya gangguan, namun jika sistem kekebalan tubuh sedang lemah, bukan tidak mungkin penyakit herpetik ini muncul kembali diawali dengan berpindah atau virus lain berkembang. Penularan virus ini bisa terjadi melalui kontak mata langsung dengan penderita.
Kapan Harus Periksa ke Dokter
Menurut American Adademy of Opthalmology dan American for Pediatric Ophtalmology and Strabismus, orang tua harus mulai memeriksakan kondisi anak sejak awal si anak dilahirkan. Mata bayi yang baru saja lahir biasanya akan diperiksa menggunakan tes refleks merah untuk mengecek apakah mata bayi normal, atau apakah adanya kemungkinan tanda-tanda kelainan penglihatan.
Ketika bayi sudah berusia enam hingga satu tahun, orang tua bisa kembali ke dokter mata untuk memeriksakan kondisi mata anak dan melihat bagaimana perkembangannya. Setelah itu, di usia tiga sampai 3,5 tahun anak perlu menjalani pemeriksaan lanjutan dan tes ketajaman mata guna memastikan kondisi penglihatannya.
Setelah anak menginjak usia 5-6 tahun, diperlukan lagi pemeriksaan ke dokter karena pada rentang usia ini sangat rentan bagi anak mengalami masalah mata. Seperti mengalami tanda-tanda rabun jauh, di usianya saat ini anak perlu memeriksakan kondisi mata setidaknya dua tahun sekali setelah itu.