Batas Aman Konsumsi Sorbitol untuk Menghindari Efek Sampingnya

Tidak mengherankan lagi bahwa gula adalah salah satu bahan makanan yang sering dikonsumsi, bahkan hampir setiap hari. Tidak hanya dalam makanan pokok, gula juga ada di dalam makanan ringan atau camilan, seperti wafer, permen, kue, biskuit, dan minuman ringan. Sukrosa adalah jenis gula yang paling banyak digunakan, yaitu pada gula pasir putih. Konsumsi sukrosa dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko karies gigi. Oleh sebab itu, muncullah alternatif pengganti gula alami ini dengan gula alkohol, salah satunya adalah sorbitol.

Apa itu sorbitol?

Sorbitol merupakan bagian dari kelompok poliol asiklik dengan enam rantai karbon (C6H12O6). Sorbitol adalah salah satu jenis gula alkohol yang paling sering digunakan untuk menggantikan penggunaan gula, termasuk di Indonesia. Alasannya adalah bahan dasar pembuatan sorbitol mudah diperoleh dan harganya pun terjangkau.

Umumnya, sorbitol terbuat dari singkong, alga merah, beri-berian, serta buah-buahan lainnya seperti apel, pir, ceri, aprikot, dan peach. Selain dari hasil alam, sorbitol sebenarnya juga dapat diproduksi dari jaringan tubuh manusia, melalui hasil pemecahan aldehid pada glukosa menjadi alkohol.   

Penggunaan dan manfaat sorbitol.

Sorbitol telah dimanfaatkan mulai dari skala kecil hingga skala besar, seperti industri makanan. Sorbitol digunakan untuk memproduksi permen, minuman ringan, biskuit, wafer, dan lain sebagainya. Selain karena bahan dasar dan harganya yang terjangkau, sorbitol dipilih karena dapat mempertahankan kelembapan makanan. Maka dari itu, penambahan sorbitol dapat melindungi produk makanan dari pengeringan dan tetap segar selama penyimpanan.

Sorbitol bersifat sangat stabil, karena dapat bertahan pada suhu tinggi dan tidak menyebabkan reaksi Maillard (pencokelatan). Selain itu, sorbitol dapat bekerja sinergis dengan bahan makanan lainnya, seperti gula, zat pembentuk gel, protein, lemak nabati, dan pemanis lainnya.

Berikut manfaat sorbitol yang dapat Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Mencegah kerusakan atau karies gigi.

Karena sifatnya non-kariogenik, sorbitol dapat digunakan untuk produk perawatan mulut dan gigi, seperti pasta gigi dan obat kumur. Sorbitol tidak dapat dimetabolisme oleh bakteri di mulut, sehingga bakteri tidak dapat melepaskan asam yang bisa membuat gigi berlubang atau erosi gigi. Kabar baiknya, manfaat sorbitol untuk kesehatan gigi ini telah diakui oleh berbagai asosiasi kesehatan di seluruh dunia. Jadi, Anda tidak perlu khawatir lagi ketika menggunakan produk perawatan gigi dan mulut yang mengandung bahan sorbitol.

Mengurangi asupan kalori.

Penyerapan sorbitol terjadi secara perlahan-lahan, tidak secepat penyerapan glukosa di dalam tubuh. Tidak semua gula alkohol ini akan diserap oleh usus halus, melainkan disalurkan ke usus besar untuk dimetabolisme dan menghasilkan lebih sedikit kalori.

Sukrosa bisa menyumbang 4 Kalori setiap 1 gram, sedangkan sorbitol hanya menyumbang 2,5 Kalori per gramnya. Oleh sebab itu, banyak juga produk makanan dengan label rendah kalori menggunakan pemanis sorbitol.

Baik untuk kontrol gula darah.

Sorbitol juga berguna sebagai alternatif gula untuk penderita diabetes, karena secara signifikan dapat mengurangi peningkatan glukosa darah dan respons insulin setelah konsumsi glukosa.

Hal ini juga berkaitan dengan jumlah kalorinya yang lebih rendah, sehingga dapat digunakan untuk pengendalian asupan kalori dan berat badan pada penderita diabetes.

Namun, sebelum Anda memutuskan untuk mengonsumsi produk makanan dengan sorbitol, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi terlebih dahulu. Sebagian orang mungkin ada yang tidak cocok dengan gula alkohol poliol ini, sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam menu diet harian.

Dosis aman konsumsi sorbitol.

Walaupun sorbitol telah diakui dunia penggunaannya aman untuk tubuh, tapi jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan masalah pada pencernaan. Efek samping yang umum terjadi adalah perut kembung, banyak gas, dan diare.

The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) menyatakan bahwa sorbitol aman dan tidak ada batasan khusus terkait konsumsi sorbitol ini. Namun, FDA menganjurkan untuk tidak mengonsumsi sorbitol melebihi 50 gram dalam sehari untuk menghindari efek pencahar yang dapat ditimbulkannya.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai